
Senin, Mei 30, 2011
PESTISIDA NABATI (9)

Minggu, Mei 29, 2011
PESTISIDA NABATI (8)


Sabtu, Mei 28, 2011
PESTISIDA NABATI (7)


Jumat, Mei 27, 2011
PESTISIDA NABATI (6)


Kamis, Mei 26, 2011
PESTISIDA NABATI (5)


Rabu, Mei 25, 2011
PESTISIDA NABATI (4)

Selasa, Mei 24, 2011
PESTISIDA NABATI (3)


Senin, Mei 23, 2011
PESTISIDA NABATI (2)


Daun sirih ditumbuk halus dan dicampur air secukupnya kemudian disaring. Air Saringan dicampur dengan 1 liter air kemudian disemprotkan.
Minggu, Mei 22, 2011
PESTISIDA NABATI (1)
Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainya. Secara umum pengertian pestisida nabati adalah sebagai suatu pestisida yang berbahan aktif (bahan dasarnya) berasal dari tumbuhan atau disebut juga pestisida alami.
Oleh karena terbuat dari bahan alami/nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang. Pestisida nabati bersifat hit and run, yaitu apabila diaplikasikan akan mudah membunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian, tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi.
Beberapa jenis tanaman yang dapat di manfaatkan sebagai pestisida nabati antara lain :
1. PICUNG / KLUWEK (Pagium edule)
2. SIRIH (Piper betle )
3. SIRSAK (Annoma muricata.L)
4. GADUNG (Discorea hispida)
5. TEMBAKAU (nicotina tabacum )
6. KENIKIR (cosmos caudatus )
7. SRIKAYA (Annona Squamosa )
8. Lengkuas (Alpinia galang) & Jahe (Zingiber officinale)
9. Sembung (BIwnea balsamifera)
10. Jengkol (Archidendron pauciflorum)
11. Tuba (Derris elliptica)
12. Mimba (Azadirachta indica)
13. Jarak (Ricinos communis)
14. Mindi (mefia azedarack )
15. Pinang (Areca cathecu)
16. Jeringau/Gringo (Acous calamos linn)
17. Bawang Putih (Allium sativum L.)
18. Cabai Rawit (Capsicum frutescens)
19. Kemangi (Ocimum basilicum L.)
Rabu, Mei 11, 2011
Sepuluh Langkah Pengendalian Ulat Bulu
- Pemantauan dan identifikasi jenis hama, stadia hama, bagian dan jenis tanaman yang diserang, tingkat/intensitas serangan, serta kondisi lingkungan untuk disampaikan kepada petugas terkait.
- Lakukan pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan dan memusnahkan ulat, antara lain dengan cara dibakar atau dibenamkan dalam tanah.
- Pemasangan lampu perangkap (light trap) untuk membunuh ngengat, karena ngengat aktif di malam hari dan tertarik cahaya.
- Mengumpulkan pupa/kepompong dan memasukannya kedalam botol plastik yang diberi lubang-lubang, sehingga ngengat yang terbentuk tidak dapat keluar sedangkan parasit yang muncul dapat keluar dan kembali berperan di alam.
- Pelihara dan lestarikan musuh alami seperti predator semut rangrang dan burung dengan cara melarang penangkapan burung dan melarang pengambilan telur semut di pohon, atau melestarikan dan memperbanyak koloni semut dengan cara memasang sarang buatan dari daun kering dan bambu.
- Gunakan insektisida hayati berupa jamur, virus, bakteri, nematode, antara lain dengan cara (a). Mengumpulkan ulat yang mati terkena virus (menggelantung) dan mengaduknya dengan air, lalu menyemprotkan kembali ke ulat, (b). Mengumpulkan kepompong atau ulat yang terkena jamur (berwarna putih – jamur Beauveria dan hijau – jamur Metarhizium), lalu perbanyak di media jagung dan semprotkan ke ulat, (c). menggunakan insektisida hayati yang sudah diproduksi dan tersedia di Dinas/lembaga yang berwenang.
- Pemasangan pembatas (burrier) pada batang pohon mangga berupa lem atau kain beracun, khususnya bagi ulat Arctornis yang memiliki sifat ketika malam hari naik ke bagian atas (kanopi) untuk memakan daun dan pada siang hari turun ke batang untuk bersembunyi dari serangan predator.
- Jika kondisi populasi ulat sangat mengkhawatirkan dapat digunakan insektisida alami yang relatif ramah lingkungan, berupa insektisida nabati (berasal dari tumbuhan), seperti mimba, tembakau, akar tuba, piretrum, gadung, suren dan lainnya. Perlu diketahui bahwa insektisida nabati tidak menyebabkan kematian langsung seperti insektisida sintetis.
- Pada kondisi kritis, maka jalan terakhir dapat digunakan insektisida kimia sintetis yang berdaya racun rendah berlabel hijau.
- Jangan menggunakan insektisida kimia sintetis untuk tindakan pencegahan, karena akan mengganggu keberadaan musuh alami dan mencemari lingkungan.